Mengigau

Januari 15, 2007

Cerita saat masih aktif jalan-jalan. Ke sukabumi. Daerah segaranten desa entahlah kecamatan tidak tahu. Berlatih menelusuri dan memetakan goa. Tujuh orang anggota tim ditambah tiga orang pendamping termasuk saya. Perjalanan jauh untuk ukuran jawa barat, berganti-ganti kendaraan dan mabuk perjalanan karena tidak tidur malam sebelumnya. Ditambah sarapan yang cuma angin dan air putih. Kepala terkantuk-kantuk tapi suasana berisik sekali. Bis ekonomi. Pengamen, asongan, dan urusan rumah tangga orang. Semua tumpah didalam bis sesak tanpa pendingin udara. Tiba disukabumi pindah naik angkot sewaan yang kurang ajar berhenti seenaknya dengan alasan rusak. Ganti sambung kendaraan dan tiba saat matahari mulai panas. Berganti berjalan kaki selama empat jam baru tiba dirumah sesepuh desa.

Tiba dibasecamp sudah hampir magrib. Pundak dan kaki letih. Perut mual karena cuma ngemil sepanjang jalan. Saya tengok yang lainnya tetap segar. Hebat! Ramah tamah sebentar dengan yang punya rumah lalu masak. Yang lain tak berani mandi karena takut mati. Banyak yang percaya kalo kita kurang tidur jangan mandi. Nanti kena angin duduk. Saya tak percaya, cuma ngantuk saja. Buat apa mandi? toh udaranya dingin. Ganti baju lalu rebahan dan langsung lelap. Salah pilih pendamping tim itu.

Sedang lelap dibangunkan untuk makan malam. Nasi putih, ikan asin, ikan kalengan dan mie instan. Rasanya? Lebih sedap dari steak. Ditambah teh pahit sebagai penutup. Mantab! Nikmat! Lalu terlelap lagi. Benar – benar butuh pendamping baru tim itu.  

Pagi hari bangun sendiri tanpa teman. Yang lain masih terlelap. Urusan pagi diselesaikan dengan santai karena tak harus berebut. Satu persatu bangun dan senyum – senyum saat berpapasan. Biar saja. Mungkin ada yang lucu. Makin lama makin lebar senyum itu. beberapa kali bahkan menjadi tertawa kecil saat saya ajak bicara. Pasti ada sesuatu dan itu ada hubungannya dengan saya. Saya panggil salah satu dari tim itu lalu saya tanya. Tersenyum saja. Tak mau menjawab. Saya panggil yang lainnya. Sama saja. Menyebalkan sekali. Saya pergi kedapur mencari pendamping lainnya. Saya yakin dia tau. Dia bersama tim itu semalam. Saya tanya dia langsung ketawa.

Dia bilang tak mungkin anak-anak itu mau bilang. Saya tanya lagi kepadanya. Dia cerita. Semalam saat tim itu sedang rapat saya mengigau dalam tidur. Apa salahnya kata saya? Salahnya yang saya ucapkan itu katanya. Memang saya bilang apa. Sambil menahan tawa dia menirukan yang saya igaukan. Katanya saya mengucap “neng, abang masukin neng ya? Ya neng ya?”. Entahlah…

Leave a Reply